Senin, 25 November 2019


Liburan Sekaligus Untuk Belajar Sejarah, Kunjungilah Area Wisata Gedung Sarekat Islam Yang Ada Di Semarang
Screenshot_8.png
Pada awal area pergerakan nasional pada tahun 1990-an, Sarekat Dagang Islam, sebuah organisasi bentukan H.Samanhudi, sukses memperluas sayap pergerakannya sampai ke sebagian kota di luar Surakarta.
Di bawah kepemimpinan H.O.S Tjokroaminoto di tahun 1912, Sarekat Dagang Islam berubah nama menjadi Sarekat Islam karena sistem perjuangannya sudah mencapai budaya serta pendidikan, bukan masalah ekonomi semata.
Pengaruh besar itu hingga sampai pada ke Semarang, yang pada waktu itu turut menjadi markas pemerintah kolonial di tanah Jawa. Karena pergerakan Sarekat Islam yang kian meluas ini, dibangunlah sebuah gedung pertemuan di Semarang untuk membuat beberapa agenda yang memang ada hubungannya dengan perjuangan untuk meraih kemerdekaan.
Gedung Rakyat Indonesia (GRI) merupakan sebuah nama dari bangunan yang berdiri di atas tanah wakaf salah seorang keturunan Tasripin yang juga menjelma menjadi komisaris SI Semarang saat Semaoen menjabat sebagai ketua SI. Hal ini dibuat pada dalam Buku Tanah Milik No. 369 Wakaf yang memperlihat perihal si empunya tanah.
Gedung Rakyat Indonesia didirikan dari usaha swadaya dari masyarakat, yang adanya uang dan bahan bangunan, di tahun 1919 dan sudah selesai dibangun pada tahun 1920.
Gedung ini digunakan sebagai sekolah pada siang hari serta rapat umum di malam hari. Keberadaan SI School diperkenalkan secara nasional oleh Tan Malaka di bulan Oktober dan November 1921 dalam majalah Soeara Rakjat. Jangkauan pengumuman didirikannya sekolah ini kian diperluas tepatnya di bulan Desember 1921 dalam bentuk buku kecil hingga berupa brosur.
Tujuan pendirian sekolah ini yaitu demi keinginan membuat sekolah tandingan politik etis yang sesuai dengan pemikiran Tan Malaka tidak etis untuk kaum kromo serta proletar. Namun sangat disayangkan, jejak sekolah SI tidak terekam dengan baik di gedung yang sudah akan roboh ini.
Beberapa dokumen sejarah republik Indonesia sudah mencatat berbagai agenda besar yang diadakan di gedung ini, di antaranya rapat di semua organisasi pergerakan, seperti Sarekat Islam, Budi Utomo, National Indische Partij, Vereeniging Spoor en Tramweg Personeel (VSTP), Partai Komunis Indonesia (PKI), Revolusioner Vaksentral, Sarekat Rakyat, kaum Tionghoa, serta yang lainnya.
Rapat umum pemogokan selama berhari-hari yang dikepalai Tan Malaka pada 22 Januari 1922 digunakan oleh Partai Indonesia (Pertindo) sebagai markas politik yang juga ikut membawa organisasi lainnya seperti PNI Pendidikan dan Persatuan Bangsa Indonesia (PBI) serta juga sebagai Pos Palang Merah saat Pertempuran Lima Hari di Semarang. Karena dijaga serta dirawat oleh Partindo, gedung ini disebut juga dengan nama Gedung Partindo.
Sempat dipugar serta diperkenalkan pada 27 Februari 2014 silam melalui Walikota Semarang, Hendrar Prihadi, membuat gedung tua ini tampak indah daripada sebelumnya. Pemugaran ini selaran diterapkan seiring dengan perbaikan beberapa situs-situs sejarah lainnya yang terdapat di kota Semarang. Meski sudah berganti rupa, gedung Sarekat Islam tetap memancarkan aura berbeda daripada pemukiman yang ada di sekitarnya judi deposit pulsa.
Gedung ini pernah ditutup oleh pemerintah kolonial serta merasakan beragam pergolakan, serta menjadi sarang diplomasi. Ia juga tercatat sebagai bangunan cagar budaya pada bawah naungan Yayasan Balai Muslimin. Jalan  menuju gedung ini sangat gampang sekali.
Pengunjung bisa mengarahkan kemudi ke Jalan MT Haryono untuk datang ke Kampung Gendong, Sarirejo, Semarang Timur. Lalu masuk gang sebelah toko sepeda pada dekat Pasar Langgar. Meski tampak kuno serta tidak begitu mencolok, Anda tetap dapat mengambil foto serta menyaksikan beberapa bangunan tua ini sebagai seorang wistawan yang memang sedang menikmati indahnya wisata sejarah.

0 komentar:

Posting Komentar